ADIMANUSIA

ADIMANUSIA

Surabaya – Sobrat Menjumpai Kapai-kapai di Prek-su. Gabungan judul naskah teater yang ditampilkan dalam pementasan teater kemarin, 20 Juli 2018, berhasil menarik lebih dari 450 penonton. Kegiatan ini rutin diselenggarakan tiap tahun oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Adi Buana Surabaya sebagai bentuk penilaian mata kuliah pementasan teater yang sedang ditempuh oleh mahasiswa semester tujuh. Dengan mengusung tema Adimanusia sebagai bentuk sindiran terhadap perkembangan bangsa Indonesia, mahasiswa PBSI angkatan 2015 sukses memukau penonton dengan tiga naskah teater yang dibawakan. Penampilan pertama dibuka dengan kelas A yang membawakan naskah dengan judul Sobrat karya Artur S. Nalan dan disutradarai oleh Winne Febriana. Kemudian disusul dengan kelas C yang berhasil mementaskan naskah adaptasi dari naskah Kali Ciliwung dengan judul Prek-su karya Moch. Nursyaid P. Berbeda dengan penampilan dua kelas lain yang hanya berdurasi sekitar empat puluh lima sampai lima puluh menit, kelas C mengusung tema ludrukan yang mampu menyegarkan penonton selama satu jam lebih sepuluh menit. Terakhir, acara ini ditutup oleh  penampilan kelas B dengan judul Kapai-kapai karya Arifin C. Noer dan disutradarai oleh Miftachul Chusnah.

Kapai-kapai.

Selain tiga pementasan, acara ini juga menampilaka tari Bang-bang Wetan sebagai pembuka acara yang dibawakan oleh mahasiswa PBSI angkatan 2017 dan live musik persembahan dari band indie Surabaya, Suarmarabahaya. Kuis dan game seru berhadiah kaos Adimanusia juga diadakan di sela-sela persiapan pementasan untuk mengurangi kejenuhan penonton.

Prek-su.

“Kami berusaha membuat penonton tetap tertarik dan menikmati acara ini, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa akan tetap ada kejenuhan dari penonton karena waktu yang terlalu lama. Apalagi tidak boleh ada makanan, minuman, dan rokok di dalam gedung. Padahal tiga hal itu adalah faktor pendukung kenyamanan penonton hahaha” ungkap Dinar D. Cahyani, sie acara kegiatan pementasan teater. Dinar juga mengungkapkan bahwa ada beberapa perbedaan kondisi Gedung Kesenian Cak Durasim yang mempengaruhi berlangsungnya acara. “Setiap tahun kami mengadakan acara di sini. Sejak tahun lalu memang sudah tidak diperbolehkan ada makanan dan minuman yang dibawa penonton ke dalam gedung, selain itu kondisi tempat duduk juga mempengaruhi jumlah penonton. Kalau tahun lalu bisa sampai 800 orang, karena sekarang sudah ada kursi-kursi, penonton hanya terbatas sampai 500 orang saja” imbuhnya.

Tari Bang-bang Wetan.

Tidak lupa sambutan-sambutan yang disampaikan oleh kepala program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dr. Sunu Catur Budiyono, M. Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan dosen pengampu mata kuliah teater, Suryadi Kusniawan, M. Hum. Ada hal menarik yang disampaikan oleh beliau dalam sambutan. Terkait tarikan pajak yang harus dibayarkan pihak penyelenggara sejumlah 5% dari penjualan tiket kepada dinas perpajakan. Beliau juga menuturkan bahwa walaupun tahun lalu tidak ada tarikan pajak, akan tetap diselesaikan sesuai dengan prosedur. “Pajak yang kita bayarkan semoga ikut mendukung upaya pemerintah dalam melakukan perbaikan kota Surabaya. Majulah Surabayaku, majulah Indonesiaku”

Terkait urusan pajak, sepertinya tidak semua orang setuju dengan adanya pajak yang harus dibayarkan oleh panitia penyelenggara. Dyan Febriawan, ketua pelaksana acara, mengungkapkan bahwa kegiatan ini murni diselenggarakan dengan uang hasil iuran seluruh mahasiswa angkatan 2015. Adapun uang penjualan tiket juga dialokasikan kembali untuk penoton dalam bentuk notebook dan sisanya sebagai dana tambahan kegiatan. Selain itu, Dyan juga mengungkapkan bahwa kegiatan pementasan teater ini harusnya mendapatkan bantuan dana karena secara tidak langsung menyumbang kegiatan kreatif dan positif untuk masyarakat di Surabaya bukan malah ditarik dana. “Tidak hanya urusan perpajakan, kemarin kami juga sedikit merasa terhambat karena harus mengurus surat izin keramaian di kepolisian. Jika memang seperti itu, kami sudah menyelesaikannya sesuai prosedur. Tetapi saya rasa masih banyak yang harus diurus selain urusan perizinan keramaian, gedung kesenian harusnya memang dibangun untuk mengadaikan keramaian yang sifatnya positif seperti kegiatan-kegiatan pagelaran budaya dan lain-lain, kan?” imbuh Dyan.

Terlepas dari semua persoalan yang dihadapi, kegiatan pementasan teater Adimanusia yang pelaksaannya diselenggarakan oleh mahasiswa PBSI angkatan 2015 dengan dibantu panitia tambahan dari Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia telah memuaskan kerinduan yang dirasakan alumni PBSI yang pernah melewati proses serupa. Seperti yang diungkapkan Fatin, mahasiswa PBSI angkatan 2014. “Selalu ada yang baru dan berkesan. Semoga semakin baik untuk tahun-tahun berikutnya”.